Tampilkan postingan dengan label Music News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music News. Tampilkan semua postingan

18 Jan 2010

Konser Solidaritas Musisi Bawah Tanah


Konser penggalangan dana bertajuk The Black Hole United Charity For Rigo Dirty Edge yang digelar komunitas The Black Hole Sabtu malam (16/1) di Manchester United Café Bar, Jakarta akhirnya berhasil mengumpulkan total dana sebesar Rp 11 juta yang di dapat dari penjualan tiket, donasi, lelang dan sebagainya.

Band grindcore Noxa semalam menjadi headliner acara tersebut. Seharusnya dijadwalkan masih ada penampilan dari Anda with The Joints, RGB dan GRIBS namun acara terpaksa dihentikan karena berbarengan dengan siaran langsung liga Inggris Manchester United Vs Burnley.

Sebelumnya tampil Seringai membawakan satu nomor yang dipopulerkan Anthrax di album State of Euphoria, “Anti Social”. Arian13, vokalis Seringai sempat menyatakan rasa simpati kepada pihak istri dan keluarga atas sakit yang diderita Rigo sebelum akhirnya menyindir halus para penggemar MU dengan berkata “Kenapa tidak nonton bola di rumah saja?” Penonton pun spontan bersorak sorai.

Unit metalcore Bandung, Burgerkill semalam juga tampil berbahaya. Band yang segera berangkat ke Perth, Australia untuk tampil di festival Big Day Out di antaranya bersama Mastodon dan Fear Factory ini membawakan “Shadow of Sorrow” serta cover “Atur Aku” milik Puppen yang segera disambut moshing dan sing-along para penonton.

Antiseptic, salah satu pionir punk hardcore ibukota yang baru saja merayakan 20 tahun eksistensi mereka tampil gahar pula membawakan nomor-nomor mereka seperti “Fight Back to Survive”, cover A.M.Q.A. “Jetson” dan lagu baru bertitel “Politik.”

Highlight konser semalam terjadi ketika band thrash revival, Gigantor tampil mengusung rentetan nomor-nomor thrash klasik seperti “Hit the Lights”, “Cowboys From Hell” hingga “Raining Blood”. Segerombolan metalheads pun merangsek ke depan panggung, menghempaskan kepala dan saling berbenturan dalam damai seraya merebut mic.

Sementara sebelumnya trio anarcho punk radikal terbaik dari selatan Jakarta, Marjinal juga tampil memanaskan suasana dengan nomor-nomor protes namun catchy mereka.

Konser yang menampilkan pula band-band rock bawahtanah lainnya seperti Inlander, Zi Factor, Master Wu, Slimer hingga F.O.D. ini digagas dalam rangka menggalang dana pengobatan bagi Rodrigo Pasaribu alias Rigo yang mengalami pendarahan otak dan kini tengah dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Rigo sebelumnya dikenal sebagai bassist band hardcore Dirty Edge yang sangat aktif pada pertengahan dekade 90-an di ibukota. Belakangan ia juga sempat menjadi jurnalis hiburan di salah satu media massa.

“Dana yang masih dibutuhkan (untuk perawatan Rigo) lebih dari Rp 100 juta,” tulis Eno, jurnalis majalah Aneka yang pertama kali menyebarkan informasi sakitnya Rigo melalui Facebook.

Di acara sebelumnya yang digelar komunitas jurnalis hiburan pada Kamis malam (14/1), menurut Nanda, isteri Rigo, telah terkumpul dana sebesar Rp. 70 juta.

“Sebelum berangkat ke sini Rigo sempat bilang ke saya untuk menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya atas perhatian teman-teman semua, dia pengin sekali datang kesini katanya,” ujar Nanda ketika menerima hasil donasi dari panitia di atas panggung.

“Begitu mendengar sakitnya Rigo, kami langsung teringat dengan yang dialami almarhum Robin Noxa. Makanya teman-teman di komunitas langsung berinisiatif bikin penggalangan dana, lebih cepat, lebih baik. Inilah yang bisa kami bantu sebagai bentuk solidaritas persahabatan,” jelas Arie, salah seorang aktivis komunitas The Black Hole.

The Black Hole merupakan komunitas rock independen di Jakarta yang memberikan ruang bagi band-band rock lokal tua dan muda untuk mengekspresikan kebebasan bermusik di tengah kondisi industri musik tanahair yang sangat diskriminatif terhadap genre rock seperti saat ini.

Komunitas ini aktif sejak awal dekade 90-an dan sebelumnya banyak mendukung pergerakan band-band rock alternatif, punk rock lokal di berbagai klub malam Jakarta seperti Voila, Prost, Green Café hingga kini di BB`s (setiap Kamis malam) dan Manchester United Café (setiap Senin malam).

Green Day Sukses Membakar Singapura!


Ketika Billie Joe sendirian dengan gitar akustiknya menyanyikan nomor balada “Good Riddance” sebagai encore, puluhan ribu penonton yang memadati Singapore Indoor Stadium sepertinya setuju 100%. Konser Green Day Kamis malam (14/1) itu adalah salah satu momen orgasmik terbaik dalam hidup mereka masing-masing, setidaknya hingga malam itu.

Sebelumnya, selama lebih kurang 2,5 jam, Billie Joe, Mike Dirnt, Tre Cool menghajar penonton Singapura dengan sebuah paket tontonan memikat yang super-komplet. Gabungan antara parade hits, cover songs, ledakan, gimmick cerdas, interaksi yang tulus, tata cahaya menawan, dua kali encore hingga sederetan rayuan gombal (“Singapore, louder than America!”).

Sebuah sajian yang niscaya membuat Anda paham mengapa akhirnya Green Day secara aklamasi terpilih sebagai band punk rock terbesar di dunia saat ini (untuk sepanjang masa tetap The Clash, Ramones, Sex Pistols).

Total sebanyak 30 lagu mereka mainkan malam itu, termasuk beberapa cover pendek dari Black Sabbath (“Iron Man”, “Paranoid”), AC/DC (“Highway To Hell”) dan Billie Joe medley meracau Elvis Presley (“Love Me Tender”), Rolling Stones (“Satisfaction”) hingga The Beatles (“Hey Jude”).

Stereotip penonton konser Singapura yang terkenal pasif dan dingin bagai robot, seperti dibilang seorang perempuan punk rock keren saat bertemu dijalan menuju venue, pupus sudah. Green Day sesaat berhasil menyulap mereka menjadi makhluk-makhluk yang ekspresif (terlepas dari banyaknya juga penonton Indonesia). Atau minimal mereka mampu bersikap begitu ketika Green Day berada di sekitar mereka.

Membuka konser dengan rentetan sepuluh lagu yang diambil dari dua album terakhir (21st Century Breakdown dan American Idiot) jelas bukan pilihan yang populer karena sangat riskan fans lama seperti teralienasi dan terjebak konser yang membosankan. Namun hebatnya ini tidak terjadi sama sekali di konser Green Day. Seperti tagline Hard Rock Café: Green Day loves all, serve all!

Sejak nomor “21st Century Breakdown” (sempat terjadi insiden di tengah lagu, mendadak Billie Joe menghentikan konser karena barikade besi di bibir panggung jebol) hingga balada “Boulevard of Broken Dreams” terlihat Green Day bagai menyiram ratusan jerigen bensin ke ribuan penonton. Sontak saja mereka yang awalnya duduk anteng-tertib di tribun sebagian langsung berdiri dan menghambur ke pagar, sekuriti pun sempat kewalahan menghalau mereka kembali ke tempat duduk. Namun sayangnya di babak pertama ini sistem tata suara masih belum maksimal, suara bass Mike Dirnt hampir tidak terdengar.

Sedikitnya lima orang fans menjadi lucky bastards malam itu karena direkrut Billie Joe ke atas panggung, entah untuk bernyanyi, berdansa, bermain atau menjadi rockstar dalam lima menit. Dan semuanya terkesan simbolik, fans yang naik ke atas panggung terdiri dari multi-ras: Melayu berambut hijau, India bersorban pink hingga remaja perempuan Cina. Green Day sepertinya paham konteks lokal Singapura dan mampu mengubahnya menjadi sebuah gimmick yang menarik sekaligus simpatik.

Sinyalemen fans lama segera dimanjakan hadir bersamaan dengan berubahnya backdrop raksasa logo Green Day kembali ke era Dookie. “Burnout” menjadi nomor pilihan di babak kedua ini. Crowd pun histeris. Maju sedikit ke era Nimrod dengan “Hitchin` a Ride” yang sempat hit di tahun 1997, Billie Joe melepas gitarnya di belakang panggung dan kembali dengan senjata air. Ia tarik seorang penggemar ke atas panggung untuk menembakkannya ke arah penonton sementara ia sendiri memegang tongkat ajaib peluncur tissue gulung. Seperti berkata, “Hey, kalian basah, kini sambut tissuenya.”

Setelah “membasahi” penonton ia pun membagi-bagikan T-shirt dengan bazooka uniknya yang sanggup melontarkan T-shirt dari panggung hingga tribun paling belakang stadion. Atraksi ini spontan menguncang decak kagum para penonton.

Namun salah satu gimmick simpatik dan menjadi highlight adalah saat Billie menarik penggemar berwajah Melayu berambut hijau ke atas panggung dan memintanya menjadi vokalis untuk lagu “Welcome to Paradise”, dengan Green Day sebagai band pengiring!

Sekilas anak ini tampak meragukan dan ribuan penonton siap mencemoohnya namun hanya perlu satu anggukan penyemangat dari Billie Joe maka semua hal pun beres, termasuk rasa percaya diri anak tersebut. Ia sukses bernyanyi tanpa cela dan melompat-lompat layaknya rockstar di atas panggung.

Anak ini bahkan turun panggung dengan elegan, diiringi marching drum Tre Cool dan seruan penyemangat dari penonton satu stadion ia melakukan aksi stage dive yang sukses. Usai konser seorang teman sempat melihat anak ini sibuk melayani permintaan foto dari para penonton yang kagum dengan aksinya tadi.

“It`s something unpredictable, but in the end it`s right. I hope you had the time of your life…”

Green Day Set List
Singapore Indoor Stadium (14 Januari 2010)


1. Song of the Century (Intro)
2. 21st Century Breakdown
3. Know Your Enemy
4. East Jesus Nowhere
5. Holiday
6. The Static Age
7. Give Me Novacaine
8. Are We The Waiting
9. St. Jimmy
10. Boulevard of Broken Dreams
11. Burnout
12. Hitchin` A Ride
13. Welcome To Paradise
14. When I Come Around
15. Iron Man (main riff)
16. Paranoid
17. Highway To Hell
18. Brain Stew
19. Jaded
20. Longview
21. Basket Case
22. She
23. King For A Day/Shout/Love Me Tender/Satisfaction/Hey Jude
24. 21 Guns
25. Minority

Encore 1:
26. American Idiot
27. Jesus of Suburbia

Encore 2:
28. Last Night On Earth
29. Wake Me Up When September Ends
30. Good Riddance (Time of Your Life)

12 Jan 2010

Superman Is Dead Live In Singapore

Free Show In Singapore

10 Jan 2010

D'Massiv Merilis Album Baru

Hard Rock Cafe, Jakarta, Rabu, 6 Januari 2009, pukul satu siang. Vokalis Rian, gitaris Kiki, gitaris Rama, bassis Rayi dan drummer Why dari kelompok musik d’Masiv duduk di depan puluhan jurnalis. Di belakang mereka, sampul album kedua mereka dicetak berukuran besar. Gambarnya, lima pakaian berjalan tanpa kepala, sedang dikerubungi orang-orang yang sibuk memotret mereka. Album yang diberi judul Perjalanan itu, mengulang konsep album perdana mereka, Perubahan [2008]. Tapi, Rian memberi argumen soal konsep yang sama itu. “Sebenernya kenapa gambar kami nggak ada kepalanya, karena kami ingin orang menghargai musik d’Masiv. Nggak lihat siapa yang memainkan musiknya, tapi dengerin aja musiknya,” katanya.

Judul Perjalanan dipilih karena mereka membuat albumnya di sela-sela tur, sehingga dirasa paling cocok untuk mewakili. Walau begitu, dalam siaran persnya, mereka mengatakan mengerjakan album ini sepenuhnya dalam suasana santai, terkendali, tak seperti—mengutip istilah yang siaran pers itu gunakan—dikejar-kejar setan, seperti halnya ketika mereka mengerjakan album perdana ketika mereka baru saja lulus dari kompetisi band A Mild Live Wanted 2007.

“Kami semua punya cukup waktu untuk merevisi apa yang kami dengar dan rasa kurang. Kami pun punya keleluasaan untuk membuat lagu seperti yang kami inginkan,” kata Rian.

Dan untuk proses pengerjaan album kali ini, mereka mengatakan sengaja tak mendengarkan album dari band lain, demi mengantisipasi tuduhan menjiplak dari orang lain. Padahal, kata Rian, ketika jamming apapun bisa terjadi. Itu termasuk munculnya nada-nada yang terdengar mirip dengan lagu lain.

“Kalau dimirip-miripin lagi sih, ya udahlah. Orang kita ngerjain album ini juga pake kerja keras. Album ini hasil buah kerja keras kami,” kata Rian. S

Capung dan Noey dari Java Jive, masih menjadi produser untuk album kedua ini. d’Masic menyebut dua orang produser itu, sebagai orang yang sangat lucu, sehingga membuat proses pengerjaan albumnya terasa menyenangkan.

“Yang jelas, album ini sudah jadi kompilasi kualitas baik dari musik maupun mental mereka. Karena sudah banyak pengalaman yang mereka rasakan selama di panggung, jadi berpengaruh terhadap bagaimana pengetahuan mereka soal sound, dan memainkan musik. Intinya, mereka sudah jauh lebih maju secara musik,” kata Capung.

“Ini album penantian kami. Album yang penuh perjuangan, karena proses pembuatannya penuh perjuangan. Ya harapannya, supaya album ini membuat orang semakin respek sama d’Masiv,” kata Rian.

Berbohong di Media Internasional, Melody Maker Diserang Komunitas Metal Tanahair

Beberapa hari terakhir ini di scene metal tanahair terjadi polemik online yang menuai kontroversi sangat panas antara band Melody Maker dengan para penggemar metal fanatik di sebuah situs berita metal internasional terkemuka, Metal Maniacs.

Sebagai informasi, Metal Maniacs merupakan majalah musik underground metal bergengsi di dunia yang terbit sejak tahun 1989 di New York City, Amerika Serikat. Majalah ini tahun 2009 berhenti terbit dan kini sebagai gantinya berubah format menjadi webzine di internet. Sampai sekarang Melody Maker tercatat sebagai band Indonesia pertama yang pernah diwawancara oleh Metal Maniacs.

Melody Maker adalah band yang mengklaim musik mereka sebagai black metalcore dan dibentuk di Jakarta sejak 2004. Sempat dibesarkan oleh komunitas J-rock hingga kini mereka telah merilis dua album bertitel Revenge From the Bleeding Lolita (2007) dan Symphony of Hatred (2008). Line up band ini terdiri dari Ahmad Mehdy Ghazali (vokal), Febryo Akbar Aman (vokal 2), Zakky Aulia Ahadi (bass), Ally Azman Qurani (gitar), Dika Yusuf Ciptadi (gitar), Muhammad Ibrahim Shibgatullah (drums) dan Reinaldo Yosua (piano).

Mereka mengaku mengambil nama band ini dari sebuah majalah musik pionir asal Inggris, Melody Maker, karena dulu sempat menyukai dan sering membaca majalah ini untuk mencari informasi tentang Oasis, band favorit mereka sebelumnya.

“Kami mengambil nama Melody Maker karena nggak mau nantinya terkungkung dalam satu genre musik saja, makanya memilih nama yang tidak terlalu seram tapi elegan,” jelas vokalis Ahmad Mehdy Ghazali.

Band ini belakangan memang tengah naik daun namanya di kalangan komunitas metal lokal dan bahkan sempat tampil pula di festival rock bergengsi Java Rockinland bulan Agustus tahun lalu.

Kemarahan para penggemar ekstrem metal ini awalnya dipicu oleh beberapa pernyataan yang dikeluarkan Ahmad Mehdy Ghazali ketika diwawancara via e-mail oleh Natalie Perez, kontributor Metal Maniacs.

Ketika menjawab pertanyaan tentang tur mereka dengan band death metal Swedia, Arch Enemy, Mehdy menjawab, “Tur bersama mereka sangat berkesan. Kami bermain di banyak kota di kawasan Asia Tenggara, tidak percaya rasanya. Mereka adalah musisi yang hebat dan kami banyak belajar dari mereka. Pengalaman yang sangat berharga bagi kami bisa belajar langsung dari profesional seperti mereka.”

Ratusan pembaca wawancara ini kontan marah, protes dan menuliskan komentar mereka secara panjang lebar di situs tersebut dengan berbagai kata-kata makian. Komentar mereka rata-rata menuding kalau Mehdy berbohong tentang tur Melody Maker bersama Arch Enemy. Pada kenyataannya Melody Maker hanya pernah tampil sekali membuka konser Arch Enemy di Tennis Indoor Stadium, Jakarta pada 28 Oktober tahun lalu. Tak pernah ada tur di banyak kota dan bagian manapun Asia Tenggara selain Indonesia.

Selain itu dalam wawancara yang memancing kemarahan komunitas metal tersebut Melody Maker juga menjelaskan mereka telah terbentuk sejak 8 tahun lalu dan memainkan musik dengan kombinasi pengaruh dari band-band “old school black metal” seperti Cradle Of Filth, Dimmu Borgir dan Behemoth. Faktanya, di dalam biografi mereka di MySpace jelas tertulis kalau band ini “dipatenkan pada awal 2004” dan bukan 2008.

Belakangan ketika hujatan semakin banyak dan memanas pihak manajemen Melody Maker lantas mengeluarkan pernyataan resmi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang disebar melalui situs Metal Maniacs tersebut pula.

“Mengenai interview antara Mehdy dengan Perez (Metal Maniacs) yang memuat bahwa Melody Maker telah melakukan tur dengan Arch Enemy. Statement dari Mehdy telah disalah artikan. Yang benar adalah, Melody Maker tidak terlibat dalam tur apapun dengan Arch Enemy dan hanya perform sebagai band pembuka di konser AE di Jakarta. Kami akan kirimkan klarifikasi mengenai hal ini ke Metal Maniacs dan kami akan sangat berusaha agar revisi mengenai hal ini dapat dimuat di edisi mendatang,” demikian isi pernyataan manajemen band tersebut.

Pernyataan ini diluar dugaan bukannya mendinginkan suasana malah semakin membuat amarah komunitas metal semakin meluas dan menjadi-jadi. Melody Maker dianggap membuat kebohongan lagi dengan menyebut pihak Metal Maniacs telah menyalahartikan atau melakukan misinterpretasi atas jawaban Mehdy.

Padahal wawancara kabarnya dilakukan via e-mail sehingga jika terjadi editing pun dilakukan untuk membenahi tata bahasa dan tidak mengubah esensi pernyataan aslinya, ini standar baku dalam praktik jurnalisme di media manapun. Sayangnya, hingga berita ini diturunkan pihak Metal Maniacs belum merespon pernyataan yang dikirimkan via e-mail tentang isyu misinterpretasi ini.

Akhirnya, berbagai ancaman boikot dan ancaman dengan kekerasan kepada Melody Maker mulai datang dari berbagai kota basis metal di seluruh Indonesia via situs tersebut. Sebut saja dari Bandung, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Lampung hingga Manado. Ditulis disana kalau mereka berjanji akan melakukan apa saja untuk menghadang konser Melody Maker di kota mereka.

Saat dihubungi Rolling Stone via telepon, vokalis Ahmad Mehdy Ghazali mengaku belum pernah menerima ancaman apapun secara langsung, sms atau ponsel selain dari situs Metal Maniacs tersebut.

“Bebas saja kalau mereka protes atau memaki-maki kami, itu hak mereka juga, ini kan negara demokrasi. Tapi kalau mereka serius mau main kekerasan, terus terang kami nggak pernah takut, kami akan hadapi,” tegas Mehdy.

Menurutnya, telah terjadi miskomunikasi antara dirinya dengan Natalie Perez ketika diwawancara via chat di Yahoo Messenger (bukan via e-mail seperti tertulis sebelumnya). Ia menjelaskan kalau Natalie adalah kontributor di beberapa penerbitan metal dan salah satunya Metal Maniacs.

Awalnya Natalie menghubungi Melody Maker via MySpace dan sempat menonton aksi mereka dari YouTube sebelum mengajukan permohonan wawancara dengan band. Mehdy sendiri mengaku kaget mendapat tawaran wawancara di Metal Maniacs karena sepanjang band ini berdiri belum pernah mereka diwawancara media asing. “Walau kontroversial mungkin ini berkah juga bagi band kami,” jelasnya.

“Saya sendiri kaget melihat hasil editing bahasa Inggris yang keren banget jadinya. Tapi terus terang saya nggak pernah mengeluarkan statement sama sekali kalo band kami terpengaruh band-band old school black metal seperti Cradle of Filth, Dimmu Borgir atau Behemoth. Itu datang dari dia,” imbuhnya lagi.

Sementara ketika di hubungi secara terpisah, Andyan Gorust, drummer Deadsquad berkomentar, “Kalau melihat jawaban dari Mehdy seperti itu, kok nggak mungkin rasanya diubah sama Metal Maniacs, apalagi wawancara via e-mail. Mungkin Mehdy awalnya nggak sadar aja kalau statement dia bakal berdampak sebesar ini di scene metal.”

Setelah wawancara tersebut dipublikasikan di situs Metal Maniacs dan terjadi kontroversi, Mehdy sempat mengajukan keberatan kepada Natalie dan meminta artikel itu diturunkan karena menurutnya berdampak tidak bagus bagi karir bandnya. Natalie menolak melakukan hal itu karena menurutnya artikel itu sudah fixed dan dipublikasikan. “Namun dia berjanji akan membuat klarifikasi tentang kontroversi ini di edisi Metal Maniacs berikutnya,” jelasnya.

Kontroversi akhirnya mereda setelah pihak manajemen Melody Maker pada hari Kamis (7/1) petang kembali merilis pernyataan terbaru via Facebook yang menjelaskan sebagai berikut:

“Untuk masalah interview, kami akui bahwa pemilihan kata Tour yang terdapat dalam wawancara itu adalah suatu kesalahan yang cukup fatal, seharusnya yang lebih tepat adalah single show sebagai band pembuka konser Arch Enemy yang diselenggarakan di Jakarta dan kami meminta maaf atas kekhilafan tersebut. Kami memang hanya tampil sekali sebagai band pembuka Arch Enemy dalam rangka tur mereka di wilayah Asia, bukan mendampingi dan terus tampil bersama di seluruh rangkaian tour tersebut. Permintaan untuk klarifikasi masalah ini sudah kami kirimkan ke pihak redaksi webzine Metal Maniacs dan saat ini tinggal menunggu respon dari mereka.”

Uniknya, ketika Rolling Stone mewawancara usai keluarnya pernyataan resmi diatas, Mehdy tetap bersikeras kalau ia tidak pernah menulis kalau Melody Maker pernah menggelar tur dengan Arch Enemy di banyak kota di Asia Tenggara.

“Wawancara itu sebenarnya belum lengkap, masih ada 4 pertanyaan lagi yang belum terjawab dari 15 pertanyaan yang Natalie berikan. Tapi karena dia terdesak deadline katanya, ia meminta saya untuk mempercayakannya saja ke dia. Nggak tahunya ditulisnya seperti itu, kami tur Asia Tenggara dengan Arch Enemy,” tegas Mehdy.

Entah akhirnya siapa yang benar dan salah dalam hal ini, mungkin ada baiknya Mehdy menyimak komentar gitaris Siksakubur, Andre Tiranda, berikut ini, “Menurut gue, kalau mau menjadi public figure, hal pertama itu mesti jujur sama diri elo sendiri dulu. Wawancara itu lucu, gue bingung mesti bilang apa, tapi seharusnya dia meminimalisasi terlihat bodoh di depan publik karena itu media internasional, semua orang di dunia pasti bisa baca. Semoga ini menjadi pelajaran.”

Green Day Manggung Lagi Di Bali

Blue Eyes Cafe, Bali, Selasa, 29 Desember 2009 pukul sepuluh malam. DJ memutar lagu-lagu Nirvana yang di-remix sehingga dianggap cocok untuk memfasilitasi penyuka joged dan penyuka musik rock. Selang beberapa menit, Jerinx, drummer Superman Is Dead naik ke panggung. Kali ini, dia tak ada di belakang drum set, melainkan di tengah panggung, bermain gitar. Di kanan kirinya tak ada Bobby Kool dan Eka Rock, karena kali ini dia tak tampil sebagai Superman is Dead, melainkan bersama Devil Dice. Sesaat sebelum naik ke panggung, Jerinx mengatakan bahwa pemain bass-nya sangat gugup karena bermain di event serius.

“Dari tahun ’97, kami selalu main di klub kecil, ini juga memang masih klub kecil, tapi ini event gede,” kata Jerinx cengengesan. Devil Dice membuka penampilan mereka dengan lagu berjudul “Sunset and Butterflies.” Mereka memainkan musik punk rock, dengan sentuhan rockabilly, dan permainan terompet yang membuat musiknya terdengar lebih penuh. Tempo musik mereka, tak secepat tempo musik-musik Superman Is Dead, maklum si penjaga tempo SID kini ada di depan, bermain gitar dan bernyanyi. Kalau boleh dibandingkan, dalam level tertentu, kualitas suara Jerinx mengingatkan pada kualitas suara Keith Richards: serak, seperti susah payah menarik nafas ketika bernyanyi, tapi nyatanya bisa bernyanyi hingga lagu selesai.

“Kami latihan dua hari lalu, setelah dua tahun nggak pernah latihan. We’re very professionals, so don’t fuck with us!” kata Jerinx seraya tertawa.

Selain membawakan lagu-lagu sendiri, Devil Dice membawakan lagu “Bridge Over Troubled Water” yang merupakan hasil kolaborasi Simon & Garfunkel dan Johnny Cash. Lagu itu, sepertinya kesukaan Jerinx, karena selalu diputar sebelum Superman Is Dead tampil di panggung. Devil Dice menutup penampilannya dengan sebuah lagu berjudul “Rock n’ Roll City,” sebuah lagu dari album mereka di tahun 2004.

“This one for the bad boys and bad girls who say fuck to the world!” kata Jerinx.

Devil Dice bermain tak lebih dari setengah jam. Setelah mereka tampil, Blue Eyes semakin padat. Sepertinya penonton memenuhi hampir sembilan puluh persen kapasitas ruang di sana. Penampil berikutnya, sebuah band bernama Silent Farewell, yang memainkan musik metal core tipikal masa kini. Hanya saja, tak ada jeritan melengking di beberapa part lagu. Silent Farewell mendapat sambutan yang untung saja tak terlalu silent dari penonton.

Lima menit menjelang tengah malam, Hoobastank tampil. Konser yang diberi judul Surya Slims Stage Present Hoobastank Live in Concert itu digelar oleh GMS Production. Vokalis Doug Robb, gitaris Dan Estrin, dan drummer Chris Hesse baru saja datang ke Bali beberapa jam lalu. Pukul tujuh malam waktu setempat, konferensi pers digelar. Pada saat konferensi pers digelar, mereka baru saja tiba di Bali dua jam sebelumnya.

“Kami berangkat tanggal 27, tahu-tahu sekarang sudah tanggal 29, kami bahkan tak ingat melewati tanggal 28,” kata Dan sambil tertawa.
“Band-band lain, mungkin bakal berpikir dua kali, untuk terbang dua puluh jam, dan langsung tampil di sini,” kata Doug.

Sudah dua album sejak Every Man For Himself [2006] dan For[n]ever [2009], Hoobastank tampil sebagai trio. Kali ini, di panggung mereka dibantu oleh pemain bass bernama Jesse, yang sudah bekerja selama dua tahun terakhir.

“Jesse bermain dengan baik selama dua tahun ini. Saya rasa, jika kami bisa kembali ke masa lalu, kami bakal berfoto berempat untuk billboard,” kata Doug seraya tertawa ketika ditanya apakah pemain bass mereka akan jadi personel tetap.

Album For[n]ever, banyak diisi oleh lagu-lagu yang seperti terdengar kekecewaan karena gagal hubungan. Soal ini, Doug mengatakan bahwa ketika patah hati, memang lebih mudah untuk membuat lagu. Dan soal album terbaru mereka yang nyaris tak terdengar jika dibandingkan ketika di tahun 2003 mereka sukses secara komersil dan melahirkan hit “The Reason”, Doug tak menampik fakta bahwa itu karena perusahaan rekaman mereka kurang mempromosikan album terbaru Hoobastank.

“Terus terang saja, kami tak bahagia dengan kinerja perusahaan rekaman kami. Walaupun agak susah juga, karena kondisi industri musik sedang sulit. Kalau kami punya lagu hit, baru dipromosikan. Jadi ya, kalau perusahaan rekaman kami di Indonesia tak mempromosikan album kami dengan baik, itu tak bisa dilepaskan dari perusahaan rekaman kami di kampung halaman,” kata Dan.

Tapi, promosi konser malam itu rupanya cukup berhasil, jika dilihat dari jumlah orang yang datang. Terakhir Hoobastank datang ke Bali, adalah tahun 2003. “Kami akan bermain dalam set akustik malam ini. Kami jarang sekali melakukan set ini, jadi ini sesuatu yang istimewa. Dan yang lebih menjadikannya istimewa karena kami ada di sini,” kata Doug membuka penampilan mereka.

Sebelumnya, di konferensi pers, Doug menampik tuduhan bahwa mereka bermain akustik karena dibayar dalam harga yang lebih murah dibandingkan biasanya. Dia juga menjamin bahwa meskipun Hoobastank bermain akustik, para penonton masih akan mendapat pertunjukkan yang menarik dan tak akan keluar dengan perasaan kecewa.

“Enam tahun adalah jarak yang terlalu lama. Mudah-mudahan, lain kali kami datang ke sini, jaraknya bukan enam tahun ya,” kata Doug.

Hoobastank membawakan lagu dari album pertama hingga terbaru. Sebanyak 14 lagu dibawakan dalam format akustik. Di beberapa lagu, Doug bernyanyi sambil bermain gitar. Penonton tetap bertahan selama nyaris satu setengah jam konser itu. Hoobastank hanya semalam di Bali. Setelah itu, mereka langsung bertolak ke Singapura, untuk tampil dalam konser tahun baru.

Green Day Live In Singapore

Green Day Live In Singapore At Thursday 14 January 2010

Boys like Girls Concerts In Indonesia

The rising punk rock megastars of Boston, Massachusetts, Boys Like Girls will be performing their first live concert in Jakarta, Indonesia. This adored band promises to come and entertain Indonesian rock fans on January 25th 2010 at the Senayan Indoor Tennis Stadium. So let's get rocks!

For more info and tickets, please contact Java Musikindo on Tel: 021-579 88 623-5 and visit www DOT javamusikindo DOT com.

Edson Datang Ke Indonesia

Pada penghujung Juli 2006 nanti, Indonesia akan kembali kedatangan kelompok musik asing. Edson, kelompok musik indiepop asal Swedia, direncakan akan melakukan serangkaian pertunjukkan di tiga kota di Indonesia. Edson dijadwalkan untuk menjadi salah satu bintang tamu dalam rangkaian final regional kontes La Lights Indiefest yang akan digelar secara maraton di tiga kota: Surabaya, Bandung, dan Jogjakarta.

Selain itu, sejumlah komunitas indie pop lokal di kota tersebut sedang melakukan penjajagan yang intens untuk mengadakan side show Edson dengan tempat pertunjukkan yang lebih kecil.

Saat ini, proses pengurusan administratif kedatangan mereka sudah mendekati tahap final. Menurut rencana yang sudah disusun, mereka akan datang pada tanggal 20 Juli 2006 dan akan memainkan panggung pertama mereka di rangkaian La Lights Indiefest di Surabaya pada tanggal 22 Juli 2006.

Sampai saat ini, baru organiser lokal Bandung, Popcycle, yang memastikan akan menggelar side show Edson. Detail pertunjukkan akan segera dilansir secara luas jika memang sudah mendapat kata final.

Pada tahun 2002, FFWD Records merilis debut album mereka yang bertitel Unwind With Edson dalam format cd dan kaset untuk pasar lokal. Bekerja sama dengan label mereka, Summersound Recordings. Beberapa singel mereka juga sempat mondar-mandir di sejumlah radio lokal di beberapa kota di Indonesia. Di antaranya: Sunday Lovely Sunday dan I Wanna Be Alone. Singel Sunday Lovely Sunday sendiri masuk ke kompilasi lintas genre lagu tema film Catatan Akhir Sekolah yang dirilis FFWD Records pada tahun 2005 yang lalu.

Total, Edson sudah merilis tiga buah album penuh dan satu buah mini album/ single. Vokalis, Pelle Carlberg, juga sedang merintis karir solonya melalui album Everything. Now yang dirilis tahun lalu. Saat ini, ia sedang mengerjakan album solo keduanya.

Simak terus rilis paling baru mengenai jadwal pasti dan rencana konser di masing-masing kota kelompok musik Edson. (pelukislangit)

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan kontak:
Felix Dass, felixdass@ffwdrecords.com
Achmad Marin, marin@ffwdrecords.com
www.ffwdrecords.com

FFWD Records
Jl. Dr. Setiabudi 56
Bandung
40141